Google+ Followers

Sabtu, 04 Mei 2013

MAKALAH TAFSIR | tentang pembahasan etika berekonomi


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an diyakini oleh umat islam sebagai kalamullah (firman Allah) yang mutlak benar, berlaku spanjang zaman dan mengandung ajaran serta petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia ini dan diakhirat nanti. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas, dan general.Untuk dapat memahami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut harus melewati jalur tafsir  sebagaimana dilakukan para ulama.
 Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah tentang etika berekonomi dan pembahasannya dari penafsiran surat An-Nisa’ ayat 29 , surat al jumuah ayat 9-11 , surat fatir ayat 29 , surat at-taubah ayat 34-35 dan surat al baqarah ayat 188.
B.   Rumusan Masalah
a)      Bagaimana isi Tafsir Qs. An-Nisa ayat 29 dan 32 ?
b)      Bagaimana isi Tafsir Qs. Al-Jumuah ayat 9-11 ?
c)      Bagaimana isi Tafsir Qs. Fatir ayat 29 ?
d)     Bagaimana isi Tafsir Qs. At-Taubah ayat 34-35 ?
e)      Bagaimana isi Tafsir Qs. Al-Baqarah ayat 188 ?
C.   Tujuan Makalah
a)      Untuk mengetahui bagaimana isi Tafsir Qs. An-Nisa ayat 29 dan 32
b)      Untuk mengetahui bagaimana isi Tafsir Qs. Al-Jumuah ayat 9-11
c)      Untuk mengetahui bagaimana isi Tafsir Qs. Fatir ayat 29
d)     Untuk mengetahui bagaimana isi Tafsir Qs. At-Taubah ayat 34-35
e)      Untuk mengetahui bagaimana isi Tafsir Qs. Al-Baqarah ayat 188
 
BAB II
PEMBAHASAN
ETIKA BEREKONOMI
 
A.  Qs. An-Nisa ayat 29 dan 32
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang
29.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Dari ayat diatas Alloh melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian mereka terhadap sebagian lainnya yang bathil ,yaitu dengan berbagai macam cara yang tidak syar’i seperti riba, judi dan berbagai hal serupa yang penuh tipu daya , sekalipun pada lahiriyahnya cara-cara tersebut berdasarkan keumuman hokum syar’I, tetapi diketahui oleh Alloh dengan jelas bahwa pelakunya hendak  melakukan tipu muslihat terhadap riba.Sehingga Ibnu jarir berkata : “diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang seorang yang membeli baju dari orang lain dengan mengatakan jika anda senang , anda dapat mengambilnya , dan jika tidak, anda dapat mengembalikannya  dan tambahkan satu dirham “ itulah yang difirmankan oleh Alloh:
  “janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.”
Ali bin abi Thalhah mengatakan dari Ibnu Abbas , ia berkata :” Ketika menurunkan ayat : ‘Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil’, kaum muslimin berkata : ‘Sesungguhnya Alloh telah melarang kita untuk memakan harta diantara kita dengan bathil.Sedangkan makanan adalah harta kita yang paling utama , untuk itu
tidak halal  bagi kita makan di temapat orang lain , maka bagaimana dengan seluruh manusia ? Maka setelah itu Alloh menurunkan :
61.  Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya[1051] atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.
Firman Alloh :
 “Kecuali dengan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka “ . Lapadz ot»pgÏB dapat dibaca dengan Rafa’ (dhammah) atau nassab (fathah) yaitu,menjadi istisnma munqathi’ (pengecualian terpisah).
Sebagaimana Alloh berfirman :
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Alloh (membunuhnya) Melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar” ( QS. Al-An’am : 151 )
Dari ayat yang mulia ini, Asy-Syafi’I berhujjah bahwa jual beli tidak syah kecuali dengan qabul (sikap menerima). Karena qabul itulah petunjuk nyata suka sama suka , berbeda dengan mu’aathat yang terkadang tidak menunjukan adanya suka sama suka . Dalam hal ini Malik, Abbu Hanifah dan Ahmad berbeda pendapat dengan jumhur ulama , bahwa mereka melihat perkataan  merupakan tanda suka sama suka , begitu pula dengan perbuatan , pada sebagian kondisi secara pasti menunjukan keridhaan,  sehingga mereka menilai sah jual beli mu’aathat . Mujahid berkata : “ Kecuali perniagaan  yang mengandung suka sama suka ,” menjual antara yang satu dengan yang lainnya . ( Begitu juga Ibnu Jarir meriwayatkan)
Diantara kesempurnaan suka sama suka adalah menetapkan Khiyar Majlis (memilih barang ditempat) . Sebagaimana terdapat dalam Ash Shahihain , Bahwa Rosululloh bersabda : “ Penjual dan pembeli berhak memilih (jadi atau batal jual belinya) selama keduanya belum berpisah”.
Didalam lapadz al-Bukhori “Jika dua orang melakukan jual beli , maka masing masing memiliki hak pilih selama keduanya belum berpisah”
Diantar ulama yang berpendapat yang sesuai dengan kandungan hadits ini adalah Ahmad , Asy Syafi’I dan npara pengikut keduanya serta jumhur ulama salaf dan khalaf . Termasuk didalamnya di syari’atkanya Khiyar syarat (hak pilih dengan menetapkan Syarat) hingga tiga hari setelah akad sesuai dengan kejelasan barang yang diperjual bel;ikan , bahkan hingga satu tahun dilokasi , Sebagaimana pendapat yang masyhur dari malik. Mereka menilai sah jual beli mu’aathat secara mutlak, yaitu satu pendapat dalam madzhab asy syafi’i.
Firman Alloh : Nä3|¡àÿRr&#þqè=çFø)s?wur “ Janganlah kamu membunuh dirimu” yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan Alloh, Sibuk melakukan kemaksiatan terhadap-Nya dan memakan harta diantara kalian dengan bathil .       “Sesungguhnya Alloh maha penyayang terhadapmu”, yaitu pada apa yang  diperintahkan dan dilarang-Nya  untuk kalian.
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin Al-‘ash ia berkata :” Ketika Rosululloh mengutusnya pada perang Dzatus Salasil, ia berkata :” Dimalam yang sangat dingin Aku pernah mengalami mimpi basah.Aku khawatir jika mandi, aku akan binasa. Maka akupun Tayamum, kemudian shalat subuh dengan sahabat-sahabatku. Ketika kami menghadap Rosululloh, aku menceritakan hal tersebut kepada beliau “ Beliau pun bertanya : ‘Hai ‘Amr, Engkau solat dalam keadaan junub? ‘ aku menjawab : ‘Ya Rosululloh ! Ketika itu malam sangat dingin , dan aku mmpi basah .Aku khawatit jika aku mandi , aku akan binasa .Aku ingat Firman Alloh :
 “Janganlah kamu membunuh dirimu.Sesungguhnya Alloh maha penyayang kepadamu”. Maka akupun Tayammum ,kemudian Shalat ‘. Maka Rosululloh tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi” . Kisah ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud.
 
Dalam Qs An-Nisa ayat 32 
32.  Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata:”Ummu Salamah berkata: ‘ Wahai Rosululloh !Kaum laki-laki dapat ikut serta berperang, sedangkan kami tidak diikutsertakan berperang dan hanya mendapat setengah bagian wrisan. Maka Alloh menurunkan : “ Dan janganlah kamu irihati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagianmu lebih banyak dari sebagian yang lain” (HR. At Tirmidzi)
Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, ia berkata :“Hendaklah laki-laki tidak berkhayal dan ia bekata ,’Seandainya aku memiliki harta si fulan dan keluarganya .’ (maka Alloh melarang itu) , akan tetapi (hendaklah ia memohon kepada Alloh  dari karunia-Nya . Al Hasan , Muhammad bin Airin , ‘Atha’ dan Adh-Dhahhak jga berkata demikian . Itulah makna yang tampak dari ayat ini . Hal ini tidak menolak hadits yang terdapat dalam hadits shahih :“Tidak boleh iri hati, Kecuali dalam dua hal ; (diantaranya) terhadap seseorang yang diberikan harta oleh Alloh , lalu dihabiskan penggunaannya dalam kebenaran ,lalu seseorang berkata :’seandainya aku memiliki harta si fulan , niscaya aku akan beramal sepertinya ‘.maka p[ahala keduanya adalah sama.”
Sesungguhnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh ayat. Dimana hadits itu menganjurkan untuk berharap mendapatkan nikmat seperti apa yang dimiliki orang itu, sedangkan ayat tersebut melarang berharap mendapatkan pengkhususan nikmat tersebut.
 
B.  Qs. Al-Jumuah ayat 9-11
 
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang
 
9.  Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
10.  Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Dinamakan hari jumat karena saat berkumpul , maka kaum muslimin berkumpul tiap pekan di mesjid untuk beribadah ,pada hari itu dijadikannya Nabi Adam as dan pada hari itu dimasukkannya kedalam surge,juga dikeluarkan dari padanya dan pada hari itu akan terjadi hari kiamat insya Alloh,sebagaimana tersebut dalam hadits shahih. Sebenarnya umat-umat yang terdahulu telah diperintahkan untuk mengadakan hari berkumpul dalam tiap sepekan, maka orang Yahudi memilih hari sabtu  dan nashara  memilih hari ahad dan Alloh memilihkan umat Islam hari Jumat.
Abu Qathadah r.a berkata : “ ketika kami sedang shalat bersama Nabi Saw, tiba-tiba terdengar derap kaki orang yang terburu-buru menuju shalat dan setelah slesai shalat, Nabi Saw bertanya ‘apakah urusanmu ?’ maka jawab mereka ‘kami terburu mengejar shalat’ “
Maka Nabi Bersabda “ jangan berbuat demikian ,jika kalian datang untuk shalat maka berjalanlah dengan tenang ,maka maka apa yang kamu dapatkan shalatlah , dan yang tertinggal lengkapilah (sempurnakanlah). (Riwayat Bukhori Muslim)
Sunnah bagi orang yang pergi shalat jumat supaya mandi , sebagaimana Ibn Umar r.a berkata bahwa Rasululloh Saw bersabda : “ Jika seorang akan datang untuk shalat jumat hendaknya mandi (Riwayat Bukhori Muslim)
Da juga disunatkan bagi orang yang pergi shalat jumat untuk memakai pakaian yang terbaik yang ada padanya .
Azan yang mewajibkan bagi orang yang mendengarnya harus segaera datang ke masjid dan meninggalkan dagangan jual belinya ,ialah azan setelah imam di atas mimbar.
Assaa’ib bin yazid r.a berkata , “ azan dihari jumat itu ialah ketika imam duduk diatas mimbar ,dimasa Rasululloh , Abu bakar dan Umar kemudian dimasa Utsman ketika ia melihat banyaknya orang-orang ,maka ia menambah azan pertama diatas azzauraa’ rumah yang tertinggi di Madinah di dekat masjid.
Setelah ayat 9 surat al jumuah melarang melarang berjual beli disaat mendengar azan jumat maka pada ayat yang ke 10 nya dianjurkan sesudah shalat jumat berkeliaran di atas muka bumi untuk mencari karunia Alloh dan tetapi diakhir ayat mengingatkan supaya banyak berdzikir  dan jangan sampai perlombaan mencari rezeki dunia ini menghalangi zikrulloh , sebab dalam zikrulloh itulah terletak keuntungan dan kejayaan , kebahagiaan yang besar. 
Qs. Al jumuah ayat 11
11.  Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.
Setelah ayat yang mengharuskan dan mewajibkan bagi orang yang mendengar azan supaya segera datang menghadiri khotbah dan shalat jumat ,maka dalam ayat ini Alloh mencela orang yang mengbaikan khotbah jumat karena urusan dagang atau lainnya.
Jabir r.a berkata bahwa suatu kafilah yang membawa dagangan tiba di madinah ,disaat itu Rasulullah Saw sedang berdiri khotbah di hari jumat,maka keluarlah orang-orang sehingga hanya tinggal 12 orang yang duduk mendengar khotbah Nabi Saw, Maka Alloh menurunkan ayat ke 11 ini. (Riwayat Bukhori Muslim)
Dilain Riwayat Jabir juga berkata :” Ketika Nabi Saw sedang khotbah jumat, tiba-tiba datang kafilah dagang di Madinah,maka pergilah sahabat pada menyambut kafilah dagang itu ,sehingga tiada sisa yang mendengarkan khotbah itu selain dua belas orang , Maka Rasululloh bersabda : “ Demi Alloh yang jiwaku ada ditangan-Nya ,andaikan kamu semua mengikuti  keluar sehingga tiada seorang pun yang tertinggal, niscaya lembah ini akan mengalir api.” Kemudian turunlah ayat 11 ini.
Watarakuu ka qaa’imaa : sebagai dalil bahwa imam harus khotbah sambil berdiri.
 
C.  Qs. Fatir ayat 29
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang
29.  Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang selalu membaca Alquran dan mengamalkan isinya, mengerjakan salat yang diwajibkan pada waktunya, sesuai dengan cara yang telah ditetapkan, dan dengan penuh ikhlas dan khusyuk, menafkahkan harta bendanya tanpa berlebih-lebihan dengan ikhlas tanpa ria, baik secara diam-diam atau terang-terangan, mereka itulah ulama yang mengamalkan ilmunya dan berbuat baik dengan Tuhan mereka. Mereka itu ibarat pedagang yang tidak merugi tetapi memperoleh pahala yang berlipat ganda, sebagai karunia Allah SWT, berdasarkan amal baktinya.
 
Firman Alloh :
            173.  Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah.
Selain dari itu, mereka akan memperoleh ampunan alas kesalahan-kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukannya, karena Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri hamba-hamba Nya, memberikan pahala yang sempurna terhadap amal-amal hamba-hamba Nya, memaafkan kesalahannya dan menambah nikmat Nya.
Imam Baihaqi di dalam kitab Ba’ts dan Ibnu Abu Hatim keduanya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Nafi’ ibnul Harits yang bersumber dari Abdullah ibnu Abu Aufa yang menceritakan, bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi saw., “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya tidur itu termasuk sarana yang diciptakan oleh Allah untuk menyejukkan pandangan mata kami, maka apakah nanti di dalam surga ada tidur?” Lalu Nabi saw. menjawab, “Tidak ada, sesungguhnya tidur itu adalah teman mati, sedangkan di dalam surga tidak ada mati”. Lelaki itu kembali bertanya, “Kalau demikian, dengan cara apakah penduduk surga istirahat?” Pertanyaan itu dirasakan amat berat oleh Rasulullah saw. lalu Rasulullah saw. menjawab, “Di dalam surga tidak ada rasa lesu, semua perihal dan keadaan mereka adalah kesantaian belaka”. Setelah itu turunlah firman-Nya, “…di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (Q.S. Fathir, 35)
 
D.  Qs. At-Taubah ayat 34-35
 
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang
34.  Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
35.  Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."
Kebanyakan orang alim dan rahib itu telah tergila-gila oleh harta dan kehormatan. Untuk memenuhi kecintaan kepada harta ,mereka memakan harta manusia dengan jalan yang bathil . sedang untuk kecintaan yang kedua , mereka menghalang-halangi manusia. Sebab, kalau saja mereka itu mengakui kebenaran Muhammad Saw dan agamanya ,sudah tentu mereka harus mengikutinya ,sehingga kekuasaan dan kehormatannya hilang. Oleh sebab itu ,mereka berlebihan dalam melarang manusia untuk mengikutinya.
Memakan harta manusia dengan bathil,berarti mengambilnya tanpa hak yang dibenarkan oleh syara . Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai jalan, antara lain :
Pertama , mengambilnya dengan cara risywah (sogokan) untuk menetapkan hokum atau memberikan bantuan dalam membatalkan yang haq atau membuat yang bathil menjadi haq
Kedua, mengambilnya dengan jalan Riba. Hal ini tersebar dikalangan Yahudi , antara lain apa yang dihalalkan oleh para pemuka agama , meski mereka mengharamkannya didalam fatwa dan kitab-kitab tasyr’i. orang-orang alim yahudi mengeluarkan fatwa bagi mereka yang memakan riba dari selain bangsa israil. Mereka makan bersama-sama berdasarkan nash Taurat yang mereka selewengkan , pdahal nash Taurat  yang asli melarangnya.
Ketiga, kaum penjaga kuburan para Nabi, orang-orang shaleh dan tempat-tempat peribadatan yag mereka bangun atas namanya sendiri , mengambil harta-harta hadiah, nadzar , dan wakaf kepada rumah iabadah atau gereja sebagai korban bagi mereka , seperti wakaf kita ke mesjid. Mengambil dan member harta untuk membangun rumah ibadah disyariatkan didalam agama . akan tetapi , adalah Bid’ah paganisme jika didalam rumah ibadah dibagun sebuah kuburan atau diletakkan gambar atau patung. Bid’ah tersebut tidak pernah ada didalam agama seluruh Nabi. Mengeluarkan nafkah untuk kepentingan Bid’ah ini termasuk perbuatan Bathil dan orang-oran yang memakannya dari para pemuka agama dan penjaga rumah ibadah ,termasuk orang-orang yang memakan harta manusia dengan bathill.
Keempat , mengeluarkan harta untuk orang-orang yang mereka yakini saleh dan zuhud di dunia , agar orang-orang itu mendoakan mereka dan member syafaat di sisi Allh dalam memenuhi segala kebutuhan dan menyembuhkan penyakitnya. Hal itu mereka lakukan kaena yakin,bahwa Alloh akan mengabulkan do’anya dan tidak akan menolak syafaatnya, atau karena mereka mengira bahwa Alloh telah memberi orang-orang itu kekuasaan terhadap alam yang dengan itumereka bisa memenuhi segala kebutuhan , seperti menolak bahaya dari siapapu yang mereka kehendaki dan mendatangkan kebaikan kepada siapapun yang merka cintai. Para pemuka agama yag sesat menerangkan kepada mereka ,bahwa perbuatan seperti itu tidak menyalahi Tauhid yang dibawaa oleh para Rosul.
Kelima , mengambil harta sebagai upah atas pemberian ampunan dosa. Pemberian ampunan itu dilakukan dengan apa yang mereka namakan pengakuan rahasia. Laki-laki maupun perempuan datang kepada pendeta yang telah diberi izin oleh Kepala tertinggi untuk mendengarkan pengakuan rahasia dan mengampuni dosa. Kemudian sang pendeta mengasingkan laki-laki atau permpuan secara berduaan , dan orang yang bersalaah menceritakan kekejian dengan segala macam yang pernah dia lakukan untuk diminta ampuanan. Mereka yakin bahwa aapa yang diampuni oleh para pendeta itu diampuni oleh Alloh.
Upah yang diterima berbeda-beda sesuai tingkatan kekayaannya dan mereka membeli ampunan itu dengan check bank untuk dilemparka kepada Alloh ta’ala. Tatacara keagamaan tersebut khusus dilakukan oleh para penganut kristren orthodox dan khatolik. Dengan seperti itu para pendeta menjadikannya sebagai jaalan untuk mengambil harta dan kekayaaan denagn jalan yang tidak benar.
Keenam , mereka mengambil harta karena fatwa yang mereka berikan untuk menghalalkan yng haramdan mengharmkan yang halal, guna untuk memuaskan nafsu para raja dan pemuka orang-orang kaya , membalas dendam terhadap musuh-musuhnya atau berlaku zalim terhadap rakyatnya. Mereka membuat dalih dan pentakwilan terhadap berbagai peristiwa secara tidak benar.
Ketujuh , mereka mengambilnya dari harta orang-orang yang berbeda rasa atau agama dengan cara khianat , mencuri dan sebagainya, sebagaimana firman Alloh dalam Qs. Ali imran ayat 75:
75.  Di antara ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi[206]. mereka Berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka Mengetahui
 
E.   Qs. Al-Baqarah ayat 188
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang
188.  Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.
Dari segi bahasa, tudlu berarti “mengulurkan sesuatu kepada sesuatu untuk mengailnya”.  Kata dasarnya adalah ad-dalw artinya “ember”.  Di dalam Al-Qur’an, kata itu misalnya terdapat dalam surah Yusuf, 12 : 19 tentang sebuah kafilah yang singgah di tempat itu mengulurkan embernya ke dalam sebuah sumur untuk memperoleh air, tetapi yang diperoleh adalah seorang anak laki-laki, yang kelak menjadi nabi yaitu Nabi Yusuf.  Di dalam Al-Baqarah, 2 : 188 umat yang beriman dilarang Allah memperoleh harta benda secara tidak sah, di antaranya, yang ditekankan sekali adalah memberi sogokan kepada hakim agar hakim menjatuhkan putusan yang menguntungkannya sehingga milik orang lain jatuh menjadi miliknya.  Penggunaan kata tudlu ini mengisyaratkan rendahnya martabat hakim yang mau menerima sogokan, seakan ia berada di dasar sumur menanti uluran dari atas.
Pada ayat-ayat yang lalu sudah disebutkan hal ihwal tentang puasa dan hukum-hukumnya, pada ayat 188 ini diterangkan hukum memakan atau mempergunakan harta satu sama lain dengan cara yang batil atau dengan cara yang tidak sah.
Sebab turunnya ayat ini adalah bahwa Ibnu Asywa Al-Hadrami dan Imri’il Qais, terlibat dalam suatu perkara tanah yang masing-masing tidak dapat memberikan bukti.  Maka Rasulullah saw menyuruh Imri’il Qais (sebagai terdakwa yang ingkar) agar bersumpah.  Tatkala Imri’il Qais hendak melaksanakan sumpah, turunlah ayat ini.
(188) pada bagian pertama dari ayat ini Allah melarang makan harta orang lain dengan jalan batil.  “Makan” ialah “mempergunakan atau memanfaatkan”, sebagaimana biasa dipergunakan dalam bahasa Arab dan bahasa lainnya.  Batil ialah cara yang dilakukan tidak menurut hukum yang telah ditentukan Allah.
Para ahli tafsir mengatakan banyak hal yang dilarang yang termasuk dalam lingkup bagian pertama ayat ini, antara lain :
1.    Makan uang riba
2.    Menerima harta tanpa ada hak untuk itu
3.    Makelar-makelar yang melaksanakan penipuan terhadap pembeli atau penjual
Kemudian pada bagian kedua atau bagian terakhir yang melarang menyuap hakim dengan maksud untuk mendapatkan sebagian harta orang lain dengan cara yang batil, dengan menyogok atau memberikan sumpah palsu.  Rasulullah saw bersabda :
 
Sesungguhnya saya adalah manusia, dan kamu okum membawa suatu perkara untuk saya selesaikan. Barangkali di antara kamu ada yang lebih pintar berbicara sehingga saya memenangkannya, berdasarkan okumn-alasan yang kedengarannya baik. Maka barang siapa yang mendapat keputusan okum dari saya untuk memperoleh bagian dari harta saudaranya (yang bukan haknya) kemudian ia mengambil harta itu, maka ini berarti saya memberikan sepotong api neraka kepadanya. (Mendengar ucapan itu) keduanya saling bertangisan dan masing-masing berkata, “Saya bersedia mengikhlaskan harta bagian saya untuk teman saya.” Lalu Rasulullah saw. Memerintahkan, “Pergilah kamu berdua dengan penuh rasa persaudaraan dan lakukanlah undian dan terimalah bahagianmu masing-masing menurut hasil undian itu dengan penuh keikhlasan.” (HR Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim dll dari Ummi Salamah dalam Tafsir Al Maragi, juz 2 hal. 33)
Ibnu abbas mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan seseorang yang punya hutang,tetapi tidak ada buktinya . Lalu ia mengingkari hutangnya dan membawa perkaranya kepada Hakim,padahal ia ingat bahwa ia memang punya hutang dan tahu bahwa ia berada di pihak yang salah dan makan harta haram.
Ummu salamah r.a mengatakan , bahwa Rasululloh Saw bersabda yang artinya “Ingatlah bahwa sesungguhnya aku seorang manusia ,dan sering datang kepadaku orang-orang yang berselisih . Mungkin yang satu lebih pandai mengemukakan alasan daripada lawannya sehingga aku memenangkannya. Maka barangsiapa  yang aku menangkan padahal hal itu berarti mengambil hak seorang muslim, maka itu sama dengan aku memberi padanya sepotong api neraka , terserah kepadanya untuk diterima atau ditinggalkan” (HR Bukhari Muslim)
Ayat dan hadits ini menunjukan bahwa putusan seorang hakim tidak mengubah hakikat hokum syari’at,yakni tidak mengubah yang haram jadi halal atau sebaliknya,meskipun pada lahirnya dapat berlaku. Jika keputusan itu tepat lahir batinnya, maka itulah yang benar. Jika tidak , maka hakim tetap mendapatkan pahala ijtihad sedangkan dosanya ditanggung oleh penipunya.
Qatadah berkata. “ ketahuilah bahwa putusan hakim tidak dapat menghalalkan yang haram , dan tidak dapat membenarkan apa yang bathil. Hakim hanya menghukum menurut apa yang dapat didengar, dilihat, dan disaksikan oleh para saksi dan hakim itu manusia biasa yang bisa benar bisa salah. Karena itu, ketahuilah, barangsiapa yang merasa, bahwa ia dimenangkan dalam kebathilan,maka perkaranya belum selesai dan akan dilanjutkan kelak dihadapan Alloh.
 
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A.  Simpulan
Berdasarkan ayat Al-Qur’an yang telah dijelaskan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa etika berekonomi yaitu diantaranya Dalam mencari harta harus sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Alloh SWT, tidak boleh iri terhadap rizki yang dimiliki oleh orang lain, tidak boleh makan harta orang lain dengan jalan yang tidak sah atau bathil kemudian agar mengakhiri perniagaan jika menjelang waktu sholat jum’at dan apabila kita sedang melaksanakan perniagaan kemudian waktu sholat datang,maka kerjakanlah waktu sholat terlebih dahulu, setelah itu lanjutkan kembali perniagaannya.
 
B.  Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami  sampaikan, kami sadar makalah ini masih kurang dari kesempurnaan. Jika ada kesalahan dan kekurangan, itu dikarenakan keterbatasan pengetahuan kami. Maka dari itu, kritik dan saran sangat kami butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Dr Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh.Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 : Pustaka Imam Asy-Syafi’i
H Salim Bahreisy,H Said Bahreisy.2004.Terjemah singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1.Surabaya : PT Bina Ilmu
H Salim Bahreisy,H Said Bahreisy.2004.Terjemah singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8.Surabaya : PT Bina Ilmu
Ahmad Musthafa Al Maraghi.1987.Terjemah Tafsir Al Maraghi Jilid 10 .Semarang : CV Toha Putra
http://belajarcepatbacaquran.com/q-s-faathir-ayat-29/