Google+ Followers

Sabtu, 04 Mei 2013

makalah tafsir | tentang produksi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
 
Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan merupakan kalamullah yang mutlak kebenarannya, berlaku sepanjang  zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya.
 
Namun demikian al-Qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general sehingga untuk dapat memahami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama’.
 
Salah satu pokok ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an adalah tentang produksi dalam al – Qur’an surat an-Nahl ayat 65 – 69,surat an – Nahl ayat 80 – 81, surat Hud ayat 37, dan surat al – Hadid ayat 27.
 
B.     Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas maka kami dapat merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1)      Apa pengertian produksi menurut al – Qur’an?
2)      Bagaimana etika produksi dalam islam?
3)      Bagaimana penafsiran Al – Qur’an surat An – Nahl ayat  65 – 69?
4)      Bagaimana penafsiran Al – Qur’an surat An – Nahl ayat  80 – 81?
5)      Bagaimana penafsiran Al – Qur’an surat Hud ayat 37?
6)      Bagaimana penafsiran Al – Qur’an surat Al – Hadid ayat 27?
7)      Bagaimana modal menurut Al – Qur’an?
8)      Apa yang dimaksud produksi yang baik?
C.     Tujuan Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1)      Pengertian produksi menurut al – Qur’an.
2)      Etika produksi dalam islam.
3)      Penafsiran Al – Qur’an surat An – Nahl ayat  65 – 69.
4)      Penafsiran Al – Qur’an surat An – Nahl ayat  80 – 81.
5)      Penafsiran Al – Qur’an surat Hud ayat 37.
6)      Penafsiran Al – Qur’an surat Al – Hadid ayat 27.
7)      Modal menurut Al – Qur’an.
8)      Produksi yang baik.
 
D.    Metode Penulisan Makalah
Metode atau cara yang digunakan dalam penulisan makalah yang berjudul PRODUKSI dalam pembuatan makalah ini dalam mencari referensi atau sumbernya  yang kami buat adalah melakukan studi kepustakaan dan mencari sumber dari Internet. Juga sumber-sumber lain yang dapat menjadikan referensi makalah yang kami buat ini.
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Produksi Menurut Al – Qur’an
Dr. Muhammad Rawwas Qalahji memberikan padanan kata “produksi” dalam bahasa Arab dengan kata al-intaj yang secara harfiyah dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min ‘anashir al-intaj dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan pengabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas). Pandangan Rawwas di atas mewakili beberapa definisi yang ditawarkan oleh pemikir ekonomi lainnya.
Hal senada juga diutarakan oleh Dr. Abdurrahman Yusro Ahmad dalam bukunya Muqaddimah fi ‘Ilm al-Iqtishad al-Islamiy. Abdurrahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfaat (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut. Produksi dalam pandangannya harus mengacu pada nilai utility dan masih dalam bingkai nilai ‘halal’ serta tidak membahayakan bagi diri seseorang ataupun sekelompok masyarakat. Dalam hal ini, Abdurrahman merefleksi pemikirannya dengan mengacu pada Q.S An-Nahl: 69
“Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat mendefinisikan bahwa produksi menurut Al Quran adalah mengadakan atau mewujudkan sesuatu barang atau jasa yang bertujuan untuk kemaslahatan manusia.
B.     Etika Produksi dalam Islam
 
Nilai dan akhlak dalam ekonomi dan mu’amalah Islam, maka akan tampak secara jelas di hadapan kita empat nilai utama, yaitu: Rabbaniyah (Ketuhanan), Akhlak, Kemanusiaan dan Pertengahan. Nilai-nilai ini menggambarkan kekhasan (keunikan) yang utama bagi ekonomi Islam, bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang tampak jelas pada segala sesuatu yang berlandaskan ajaran Islam. Makna dan nilai-nilai pokok yang empat ini memiliki cabang, buah, dan dampak bagi seluruh segi ekonomi dan muamalah Islamiah di bidang harta berupa produksi, konsumsi, sirkulasi, dan distribusi.
 
Raafik Isaa Beekun dalam bukunya yang berjudul Islamic Bussines Ethics menyebutkan paling tidak ada sejumlah parameter kunci system etika Islam yang dapat dirangkum sebagai berikut:
ü  Berbagai tindakan ataupun keputusan disebut etis bergantung pada niat individu yang melakukannya. Allah Maha Kuasa dan mengetahui apapun niat kita sepenuhnya secara sempurna.
ü   Niat baik yang diikuti tindakan yang baik akan dihitung sebagai ibadah. Niat yang halal tidak dapat mengubah tindakan yang haram menjadi halal.
ü   Islam memberikan kebebasan kepada individu untuk percaya dan bertindak berdasarkan apapun keinginannya, namun tidak dalam hal tanggungjawab keadilan.
ü  Percaya kepadaAllah SWT memberi individu kebebasan sepenuhnya dari hal apapun atau siapapun kecuali Allah.
ü  Keputusan yang menguntungkan kelompok mamyoritas ataupun minoritas secara langsung bersifat etis dalam dirinya. Etis bukanlah permainan mengenai jumlah.
ü  Islam mempergunakan pendekatan terbuka terhadap etika, bukan sebagai system yang tertutup, dan berorientasi diri sendiri. Egoisme tidak mendapat tempat dalam ajaran Islam.
ü  Keputusan etis harus didasarkan pada pembacaan secara bersama-sama antara Al-Qur’an dan alam semesta.
ü   Tidak seperti system etika yang diyakini banyak agama lain, Islam mendorong umat manusia untuk melaksanakan tazkiyah melalui partisipasi aktif dalam kehidupan ini. Dengan berprilaku secara etis di tengah godaan ujian dunia, kaum Muslim harus mampu membuktikan ketaatannya kepada Allah SWT.


C.    Penafsiran Al – Qur’an Surat An – Nahl Ayat 65 – 69
Artinya :
“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (65) Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (66) Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.(67) Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia",(68) Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.(69)“{ Q.S An-Nahl : 65 – 69}.
 
Maksudnya :
Menurut Ahmad Mushtafa Al-Maroghi dalam tafsir Al-Maroghi, dalam ayat-ayat ini Allah menyajikan beberapa dalil tauhid, mengingat ia merupakan poros segala permasalahan di dalam agama Islam dan seluruh agama samawi. Maka diterangkan bahwa Dia telah menurunkan hujan dari langit agar dengan hujan itu bumi yang tadinya mati menjadi hidup, kemudian mengeluarkan susu dari binatang ternak, menjadikan khamar, cuka dan manisan dari anggur dan buah kurma, serta mengeluarkan madu dari lebah yang di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Seiring dengan penjelasan itu, Allah menjelaskan bahwa Dia mengilhamkan kepada lebah agar membuat sarang dan mencari rezekinya dari segala penjuru bumi.
 
Dan Surat An-Nahl ayat 67 menjelaskan manfaat buah buahan yang dapat dimakan dan dapat menghasilkan minuman. Hanya saja minuman tersebut dapat beralih menjadi sesuatau yang buruk, karena memabukan. Dari sisi lain, karena wujudnya minuman tersebut di perlukan usaha manusia, maka ayat ini menegaskan upaya manusia dengan menyatakan bahwa: dan disamping susu yang yang merupakan minuman lezat, dari buah kurma dan buah anggur kamu juga dapat membuat yang sesuatu darinya yakni dari hasil perasannya sejenis minuman yang dapat memabukkan dan rezeki yang baik dan tidak memabukkan, seperti perasan anggur atau kurma yang segar atau cuka.
 
Ayat ini menegaskan bahwa kurma adan anggur dapat menghasilkan dua hal yang berbeda, yaitu minuman memabukkan dan rezeki yang baik. Jika demikian, minuman keras(yang memabukkan), baik yang terbuat dari anggur maupun kurma, bukanlah rezeki yang baik dan tidak layak untuk diproduksi apalagi diedarkan. Ayat ini adalah isyarat pertama lagi sepintas tentang keburukan minuman keras dan larangan memproduksi hal-hal yang memudharatkan. Jadi yang diproduksi hendaknya yang bermanfaat saja bagi manusia.
 
Peningkatan nilai guna barang adalah salah satu prinsip dalam produksi. Akan tetapi dalam hal ini perlu di ketahui apa-apa yang harus dijadikan rambu-rambu dalam memproduksi barang.
 
Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai-nilai Islam terangkum dalam empat pokok: tauhid, keseimbangan, kehendak bebas, dan tanggug jawab.
 
Keempat prinsip diatas harusnya mewarnai aktivitas setiap muslim dalam kegiatan ekonominya. Prinsip tauhid mengantarkan manuisa dalam kegiatan produksi barang untuk meyakini bahwa segala sesuatu adalah milik Alloh. Memang jika diamati, hasil-hasil produksi yang dapat menghasilkan uang atau harta kekayaan, tidak lain kecuali hasil rekayasa manusia dari bahan mentah yang telah disiapkan Alloh.
 
Di sisi lain keberhasilan para pengusaha bukanlah hanya disebabkan oleh hasil usahanya sendiri tetapi juga partisipasi orang lain atau masyarakat. Bukankah para pedagang misalnya membutuhkan pembelinya agar hasil produksinya terjual? Kalau demikian pantas Alloh memerintahkan manusia untuk menyisihkan sebagian yang berada dalam genggamannya(miliknya) demi kepentingan masyarakat umum. Dari sini agama menetapkan keharusan adanya fungsi sosial bagi harta kekayaan.
 
Prinsip tauhid yang menghasilkan pandangan tentang kesatuan umat manusia mengantar seorang pengusaha muslim untuk menghindari segala bentuk eksploitasi terhadap sesama manusia. Prinsip keseimbangan mengantar kepada pencegahan segala bentuk monopoli dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu tangan atau satu kelompok. Atas dasar ini Al Qur’an menolak dengan amat tegas daur sempit yang hanya berkisar pada orang orang atau kelompok tertentu.
 
D.    Penafsiran Al – Qur’an Surat An – Nahl Ayat 80 – 81
 
 
Artinya :
“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).(80) Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).(81)“{Q.S An-Nahl : 80 – 81}
 
Maksudnya :
Menurut Ahmad Mushtafa Al-Maroghi dalam tafsir Al-Maroghi, menafsirkan ayat-ayat ini bahwa Allah telah menyebutkan nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepada para hamba-Nya. Dimulai dengan nikmat yang dikhususkan bagi orang-orang yang bermukim, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” kemudian nikmat yang dikhususkan bagi para musafir yang mampu mendirikan kemah, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak”. Kemudian bagi orang yang tidak mampu melakukan hal itu, tidak pula mempunyai naungan selain daripada tempat bernaung, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan” . selanjutkan menyebutkan nikmat yang dibutuhkan oleh setiap orang, dengan Firman-Nya: “dan Dia jadikan bagimu pakaian”. Lalu, menyebutkan apa yang diperlukan di dalam peperangan, dengan Firman-Nya: “dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan”.

E.     Penafsiran Al – Qur’an Surat Hud Ayat 37
Artinya :
“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.“( Q.S Huud: 37 )
 
Maksudnya :
Menurut Ahmad Mushtafa Al-Maroghi dalam tafsir Al-Maroghi, menafsirkan ayat ini bahwa Allah memerintah Nuh untuk membuat sebuah kapal yang akan menyelamatkan kamu bersama orang yang beriman yang ikut naik kapal itu, sedang kamu akan dipelihara dan diawasi dengan perhatian Kami. Maksudnya, sesungguhnya Kami menjagamu pada setiap saat, sehingga tak ada seorang pun yang menghalangimu dari pemeliharaan Kami, dan Kami memberi ilham dan mengajarimu dengan wahyu Kami, sebagaimana cara kamu membuat kapal. Sehingga, kamu takkan salah dalam membuatnya, termasuk sifat kapal itu. Serupa dengan ayat tersebut, ialah Firman Allah kepada Musa:
“Dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (Q.S Thaha : 39).
 
F.       Penafsiran Al – Qur’an Surat Al – Hadid Ayat 27
Artinya :
“Kemudian Kami iringkan dibelakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) ‘Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yamg mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi ( mereka sendirilah yang mengada – adakannya ) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang – orang yang beriman diantara mereka pahalanya dan banyak diantara mereka orang – orang fasik.” (Q.S.Al – Hadid : 27)
Maksudnya:
1.      Terdapat 2 penafsiran oleh mufassirin (ahli tafsir) berkaitan ayat ini:
a.       Secara ringkas maksud ayat ini ialah ditujukan kepada orang-orang yang mengadakan rahbaniyyah, akan tetapi mereka mengingkari (tidak mau beriman) dengan Nabi Allah yang datang kepada mereka yaitu Nabi Isa dan Nabi Muhammad s.a.w. Maka, perbuatan rahbaniyah tadi dikira jelek (bid’ah).
b.      Menurut sebagian Mufassirin, maksud ayat ini ialah bolehnya melakukan rahbaniyyah tetapi dengan dengan dua kemestian, yaitu selaras dengan tuntutan syarak semasa (syariat Islam, bukan syariat agama lain) dan istiqamah dalam melakukannya.
2.      Penafsiran mengikuti hadits
a.       Penafsiran pertama mengikut hadis
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan daripada Abdullah bin Mas'ud r.a, ia berkata: Rasulullah SAW bertanya kepadaku: Wahai Ibnu Mas’ud! Ya, saya, jawabku kepada Rasulullah s.a.w. baginda bersabda: Tahukah kamu bahawa Bani Israel berpecah kepada 72 kumpulan. (Namun) yang selamat hanya 3 kumpulan sahaja, yaitu (kumpulan) selepas Nabi Isa dan di celah-celah kerajaan tirani dan diktator (pada masa itu). Mereka ialah :
·         Kumpulan yang tampil berdakwah kepada agama Allah dan agama Isa bin Maryam. Mereka memerangi para pemerintah tirani. Ramai terbunuh, namun mereka sabar dan akhirnya mereka berjaya dan selamat.
·         Kumpulan yang menyeru kepada agama Allah dan agama Isa bin Maryam. Mereka berjuang memerangi raja-raja diktator dan pemerintah tirani. Ramai dari kalangan mereka terbunuh, digergaji dan dibakar dengan api. Tetapi mereka tabah dan akhirnya berjaya selamat.
·         Kumpulan ini tidak berdaya untuk berperang dan berjuang. Tidak mampu menegakkan keadilan. Mereka hanya mampu membawa diri di gua-gua untuk beribadat dan menjadi rahib. Kumpulan inilah yang disebut oleh Allah s.w.t. dalam ayat (bermaksud): ....Mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka...(al-Hadid ayat 27).
b.      Penafsiran Kedua berdasarkan hadis
Sa'id bin Manshur dan Ismail Al Qadhi meriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili RA ia berkata, "Kamu mengadakan qiyamullail pada bulan Ramadhan sedangkan hal itu tidak diwajibkan atas kamu. Yang diwajibkan atas kamu hanyalah puasa, maka terus-meneruslah bangun malam jika kamu memang mengerjakannya dan jangan kamu tinggalkan, karena bani Israil mengadakan bid'ah yang tidak diwajibkan Allah kepada mereka dengan tujuan mencari keridhaan Allah, namun mereka tidak memeliharanya dengan semestinya. Oleh sebab itu, Allah menegur mereka karena meninggalkannya." Ia lalu membaca, "Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah”.
 
G.     Modal Menurut Al Qur’an
 
Dalam pandangan Al qur’an, uang merupakan modal serta salah satu faktor produksi yang penting, tapi bukan yang terpenting. Manusia menduduki tempat diatas modal disusul dengan sumber daya alam. Modal tidak boleh diabaikan, manusia berkewajiban menggunakannya agar terus produksif dan tidak habis digunakan. Karena itu seoarang wali yang menguasai harta orang orang yang tidak atau belum mampu mengurus hartanya agar mengembangkan harta yang berada di dalam kekuasaanya dan membiayai kebutuhan pemiliknya yang tidak mampu itu, dari keuntungan perputaran modal, bukan dari pokok modal. Ini di pahami dari redaksi surat An Nisa ayat 5:
 
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”
 
Orang yang belum sempurna akalnya ialah anak yatim yang belum balig atau orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya.
 
H.     Usaha Produksi yang baik
 
 
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
 
Kata “yang baik” itu menurut keterangan jamaah adalah yang halal. Menurut keterangan jumhur yang terbaik diantara sebagian hasil usaha yang telah kamu dapat. Dari ayat ini dapat di istinbatkan hukum yaitu berusaha itu adalah satu pekerjaan yang boleh dikerjakan, bukan diwajibkan. Meriwayatkan Bhukhori dari hadis misdan Nabi Muhammad bersabda, Tidak ada makanan yang paling baik yang dimakan oleh seseorang selain daripada yang diusahakan oleh tangannya sendiri.
 
Selain dari usaha tangan, juga dibolehkan usaha pertambangan, seperti mengeluarkan barang-barang logam dan mineral dari tanah, atau bertindak sebagai petani. Itulah yang dimaksud oleh firman Alloh, “dari apa-apa yang telah kami keluarkan dari dalam bumi untukmu” sangat pantas Imam Syafi’I mengatakan bahwa usaha yang paling baik adalah dari pertanian, artinya langsung dari bumi.
 
BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari uraian di atas Penulis dapat menyimpulkan ayat-ayat Al-Quran tentang produksi sebagai berikut:
1)      Produksi menurut Al Quran adalah mengadakan atau mewujudkan sesuatu barang atau jasa yang bertujuan untuk kemaslahatan manusia.
2)      Nilai-nilai pokok yang empat ini memiliki cabang, buah, dan dampak bagi seluruh segi ekonomi dan muamalah Islamiah di bidang harta berupa produksi, konsumsi, sirkulasi, dan distribusi.
3)      Manusia menduduki tempat diatas modal disusul dengan sumber daya alam. Modal tidak boleh diabaikan, manusia berkewajiban menggunakannya agar terus produksif dan tidak habis digunakan.
4)      Dalam An – Nahl ayat 65 – 69 diterangkan bahwa Allah telah menurunkan hujan dari langit agar dengan hujan itu bumi yang tadinya mati menjadi hidup, kemudian mengeluarkan susu dari binatang ternak, menjadikan khamar, cuka dan manisan dari anggur dan buah kurma, serta mengeluarkan madu dari lebah yang di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Seiring dengan penjelasan itu, Allah menjelaskan bahwa Dia mengilhamkan kepada lebah agar membuat sarang dan mencari rezekinya dari segala penjuru bumi.
5)      Al – Qur’an surat An – Nahl ayat 80-81 menafsirkan bahwa Allah telah menyebutkan nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepada para hamba-Nya. Dimulai dengan nikmat yang dikhususkan bagi orang-orang yang bermukim, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” kemudian nikmat yang dikhususkan bagi para musafir yang mampu mendirikan kemah, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak”. Kemudian bagi orang yang tidak mampu melakukan hal itu, tidak pula mempunyai naungan selain daripada tempat bernaung, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan” . selanjutkan menyebutkan nikmat yang dibutuhkan oleh setiap orang, dengan Friman-Nya: “dan Dia jadikan bagimu pakaian”. Lalu, menyebutkan apa yang diperlukan di dalam peperangan, dengan Firman-Nya: “dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan”.
6)      Al – Qur’an surat Hud ayat 37 menafsirkan bahwa Allah memerintah Nuh untuk membuat sebuah kapal yang akan menyelamatkan kamu bersama orang yang beriman yang ikut naik kapal itu, sedang kamu akan dipelihara dan diawasi dengan perhatian Kami. Maksudnya, sesungguhnya Kami menjagamu pada setiap saat, sehingga taka nada seorang pun yang menghalangimu dari pemeliharaan Kami, dan Kami member ilham dan mengajarimu dengan wahyu Kami, sebagaimana cara kamu membuat kapal.
7)      Terdapat 2 penafsiran oleh mufassirin (ahli tafsir) berkaitan surat Al – Hadid ayat 27 :
·         Secara ringkas maksud ayat ini ialah ditujukan kepada orang-orang yang mengadakan rahbaniyyah, akan tetapi mereka mengingkari (tidak mahu beriman) dengan Nabi Allah yang datang kepada mereka yaitu Nabi Isa dan Nabi Muhammad s.a.w. Maka, perbuatan rahbaniyah tadi dikira jelek (bid’ah).
·         Menurut sebahagian Mufassirin, maksud ayat ini ialah bolehnya melakukan rahbaniyyah tetapi dengan dengan dua kemestian, yaitu selaras dengan tuntutan syarak semasa (syariat Islam, bukan syariat agama lain) dan istiqamah dalam melakukannya.
 
 
B.     Saran
 
Sesuai dengan uraian mengenai produksi di atas, maka dapat kami ambil kesimpulan bahwa proses produksi dan modal yang digunakan untuk memproduksi itu harus sesuai dengan keterangan yang ada dalam al – Qur’an. Dan kita sebagai manusia harus memanfaatkan seoptimal mungkin apa yang telah diberikan oleh Allah, segala hal yang ada di alam ini.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mushtaf Al-Maroghi. 1987. Penerjemah Anshori Umar Sitanggal dkk. Terjemah Tafsir Al-Maroghi. Semarang: Tohaputra Semarang.
Tafsir Ibnu Katsir.
Al – Qur’an dan Terjemah.
Faisal Badroen, dkk. 2005. Etika Bisnis dalam Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press.
Qurays Shihab. 2002. Tafsir Al Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
http://esyariahstaiposo.wordpress.com/2011/11/02/produksi-dan-konsumsi-dalam-al-qur%E2%80%99an-aplikasi-tafsir-ekonomi-al-qur%E2%80%99an/
http://hamz-sazied.blogspot.com/2010/04/ayat-ayat-al-quran-tentang-produksi.html